Surah ke-20 · 135 ayat · Makkiyah

Taha

سورة طه

Taha

kulụ min ṭayyibāti mā razaqnākum wa lā taṭgau fīhi fa yaḥilla 'alaikum gaḍabī, wa may yaḥlil 'alaihi gaḍabī fa qad hawā

Makanlah dari rezeki yang baik-baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Barangsiapa ditimpa kemurkaan-Ku, maka sungguh, binasalah dia.

wa innī lagaffārul liman tāba wa āmana wa 'amila ṣāliḥan ṡummahtadā

Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi yang bertobat, beriman dan berbuat kebajikan, kemudian tetap dalam petunjuk.

۞

wa mā a'jalaka 'ang qaumika yā mụsā

“Dan mengapa engkau datang lebih cepat daripada kaummu, wahai Musa?”

qāla hum ulā`i 'alā aṡarī wa 'ajiltu ilaika rabbi litarḍā

Dia Musa berkata, “Itu mereka sedang menyusul aku dan aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar Engkau rida kepadaku.”

qāla fa innā qad fatannā qaumaka mim ba'dika wa aḍallahumus-sāmiriyy

Dia Allah berfirman, “Sungguh, Kami telah menguji kaummu setelah engkau tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri.”

ەۚ ەۗ

fa raja'a mụsā ilā qaumihī gaḍbāna asifā, qāla yā qaumi a lam ya'idkum rabbukum wa'dan ḥasanā, a fa ṭāla 'alaikumul-'ahdu am arattum ay yaḥilla 'alaikum gaḍabum mir rabbikum fa akhlaftum mau'idī

Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Dia Musa berkata, “Wahai kaumku! Bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Apakah terlalu lama masa perjanjian itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan Tuhan menimpamu, mengapa kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?”

ۙ

qālụ mā akhlafnā mau'idaka bimalkinā wa lākinnā ḥummilnā auzāram min zīnatil-qaumi fa qażafnāhā fa każālika alqas-sāmiriyy

Mereka berkata, “Kami tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami harus membawa beban berat dari perhiasan kaum Fir‘aun itu, kemudian kami melemparkannya ke dalam api, dan demikian pula Samiri melemparkannya,

ەۙ ۗ

fa akhraja lahum 'ijlan jasadal lahụ khuwārun fa qālụ hāżā ilāhukum wa ilāhu mụsā fa nasiy

Kemudian dari lubang api itu dia Samiri mengeluarkan patung anak sapi yang bertubuh dan bersuara untuk mereka, maka mereka berkata, “Inilah Tuhanmu dan Tuhannya Musa, tetapi dia Musa telah lupa.”

ەۙ

a fa lā yarauna allā yarji'u ilaihim qaulaw wa lā yamliku lahum ḍarraw wa lā naf'ā

Maka tidakkah mereka memperhatikan bahwa patung anak sapi itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak kuasa menolak mudarat mau-pun mendatangkan manfaat kepada mereka?

wa laqad qāla lahum hārụnu ming qablu yā qaumi innamā futintum bih, wa inna rabbakumur-raḥmānu fattabi'ụnī wa aṭī'ū amrī

Dan sungguh, sebelumnya Harun telah berkata kepada mereka, “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu hanya sekedar diberi cobaan dengan patung anak sapi itu dan sungguh, Tuhanmu ialah Allah Yang Maha Pengasih, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.”

qālụ lan nabraḥa 'alaihi 'ākifīna ḥattā yarji'a ilainā mụsā

Mereka menjawab, “Kami tidak akan meninggalkannya dan tetap menyembahnya patung anak sapi sampai Musa kembali kepada kami.”

ۙ

qāla yā hārụnu mā mana'aka iż ra`aitahum ḍallū

Dia Musa berkata, “Wahai Harun! Apa yang menghalangimu ketika engkau melihat mereka telah sesat,

allā tattabi'an, a fa 'aṣaita amrī

Sehingga engkau tidak mengikuti aku? Apakah engkau telah sengaja melanggar perintahku?”

qāla yabna`umma lā ta`khuż biliḥyatī wa lā bira`sī, innī khasyītu an taqụla farraqta baina banī isrā`īla wa lam tarqub qaulī

Dia Harun menjawab, “Wahai putra ibuku! Janganlah engkau pegang janggutku dan jangan pula kepalaku. Aku sungguh khawatir engkau akan berkata kepadaku, ‘Engkau telah memecah belah antara Bani Israil dan engkau tidak memelihara amanatku.’”

qāla fa mā khaṭbuka yā sāmiriyy

Dia Musa berkata, “Apakah yang mendorongmu berbuat demikian wahai Samiri?”

qāla baṣurtu bimā lam yabṣurụ bihī fa qabaḍtu qabḍatam min aṡarir-rasụli fa nabażtuhā wa każālika sawwalat lī nafsī

Dia Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui, jadi aku ambil segenggam tanah dari jejak rasul lalu aku melemparkannya ke dalam api itu, demikianlah nafsuku membujukku.”

ۗ

qāla faż-hab fa inna laka fil-ḥayāti an taqụla lā misāsa wa inna laka mau'idal lan tukhlafah, wanẓur ilā ilāhikallażī ẓalta 'alaihi 'ākifā, lanuḥarriqannahụ ṡumma lanansifannahụ fil-yammi nasfā

Dia Musa berkata, “Pergilah kau! Maka sesungguhnya di dalam kehidupan di dunia engkau hanya dapat mengatakan, ‘Janganlah menyentuh aku,’. Dan engkau pasti mendapat hukuman yang telah dijanjikan di akhirat yang tidak akan dapat engkau hindari, dan lihatlah tuhanmu itu yang engkau tetap menyembahnya. Kami pasti akan membakarnya, kemudian sungguh kami akan menghamburkannya abunya ke dalam laut berserakan.

innamā ilāhukumullāhullażī lā ilāha illā huw, wasi'a kulla syai`in 'ilmā

Sungguh, Tuhanmu hanyalah Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.”

ۚ

każālika naquṣṣu 'alaika min ambā`i mā qad sabaq, wa qad ātaināka mil ladunnā żikrā

Demikianlah Kami kisahkan kepadamu Muhammad sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sungguh, telah Kami berikan kepadamu suatu peringatan Al-Qur'an dari sisi Kami.

man a'raḍa 'an-hu fa innahụ yaḥmilu yaumal-qiyāmati wizrā

Barangsiapa berpaling darinya Al-Qur'an, maka sesungguhnya dia akan memikul beban yang berat dosa pada hari Kiamat,

← Surah sebelumnya Surah 19
Surah selanjutnya → Surah 21