innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn
Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.”
Surah ke-7 · 206 ayat · Makkiyah
سورة الأعراف
The heights
innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumum musrifụn
Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.”
wa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijụhum ming qaryatikum, innahum unāsuy yataṭahharụn
Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka Lut dan pengikutnya dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.”
fa anjaināhu wa ahlahū illamra`atahụ kānat minal-gābirīn
Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya, kecuali istrinya. Dia istrinya termasuk orang-orang yang tertinggal.
wa amṭarnā 'alaihim maṭarā, fanẓur kaifa kāna 'āqibatul-mujrimīn
Dan Kami hujani mereka dengan hujan batu. Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.
wa ilā madyana akhāhum syu'aibā, qāla yā qaumi'budullāha mā lakum min ilāhin gairuh, qad jā`atkum bayyinatum mir rabbikum fa auful-kaila wal mīzāna wa lā tabkhasun-nāsa asy-yā`ahum wa lā tufsidụ fil-arḍi ba'da iṣlāḥihā, żālikum khairul lakum ing kuntum mu`minīn
Dan kepada penduduk Madyan, Kami utus Syuaib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada tuhan sembahan bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan jangan kamu merugikan orang sedikit pun. Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diciptakan dengan baik. Itulah yang lebih baik bagimu jika kamu orang beriman.”
wa lā taq'udụ bikulli ṣirāṭin tụ'idụna wa taṣuddụna 'an sabīlillāhi man āmana bihī wa tabgụnahā 'iwajā, ważkurū iż kuntum qalīlan fa kaṡṡarakum wanẓurụ kaifa kāna 'āqibatul-mufsidīn
Dan janganlah kamu duduk di setiap jalan dengan menakut-nakuti dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan.
۔
wa ing kāna ṭā`ifatum mingkum āmanụ billażī ursiltu bihī wa ṭā`ifatul lam yu`minụ faṣbirụ ḥattā yaḥkumallāhu bainanā, wa huwa khairul-ḥākimīn
Jika ada segolongan di antara kamu yang beriman kepada ajaran yang aku diutus menyampaikannya, dan ada pula segolongan yang tidak beriman, maka bersabarlah sampai Allah menetapkan keputusan di antara kita. Dialah hakim yang terbaik.
qālal-mala`ullażīnastakbarụ ming qaumihī lanukhrijannaka yā syu'aibu wallażīna āmanụ ma'aka ming qaryatinā au lata'ụdunna fī millatinā, qāla a walau kunnā kārihīn
Pemuka-pemuka yang menyombongkan diri dari kaum Syuaib berkata, “Wahai Syuaib! Pasti kami usir engkau bersama orang-orang yang beriman dari negeri kami, kecuali engkau kembali kepada agama kami.”Syuaib berkata, “Apakah kamu akan mengusir kami, kendatipun kami tidak suka?
qadiftarainā 'alallāhi każiban in 'udnā fī millatikum ba'da iż najjānallāhu min-hā, wa mā yakụnu lanā an na'ụda fīhā illā ay yasyā`allāhu rabbunā, wasi'a rabbunā kulla syai`in 'ilmā, 'alallāhi tawakkalnā, rabbanaftaḥ bainanā wa baina qauminā bil-ḥaqqi wa anta khairul-fātiḥīn
Sungguh, kami telah mengada-adakan kebohongan yang besar terhadap Allah, jika kami kembali kepada agamamu, setelah Allah melepaskan kami darinya. Dan tidaklah pantas kami kembali kepadanya, kecuali jika Allah, Tuhan kami menghendaki. Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu. Hanya kepada Allah kami bertawakal. Ya Tuhan kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak adil. Engkaulah pemberi keputusan terbaik.”
wa qālal-mala`ullażīna kafarụ ming qaumihī la`inittaba'tum syu'aiban innakum iżal lakhāsirụn
Dan pemuka-pemuka dari kaumnya Syuaib yang kafir berkata kepada sesamanya, “Sesungguhnya jika kamu mengikuti Syuaib, tentu kamu menjadi orang-orang yang rugi.”
fa akhażat-humur-rajfatu fa aṣbaḥụ fī dārihim jāṡimīn
Lalu datanglah gempa menimpa mereka, dan mereka pun mati bergelimpangan di dalam reruntuhan rumah mereka.
allażīna każżabụ syu'aibang ka`al lam yagnau fīhā, allażīna każżabụ syu'aibang kānụ humul-khāsirīn
Orang-orang yang mendustakan Syuaib seakan-akan mereka belum pernah tinggal di negeri itu. Mereka yang mendustakan Syuaib, itulah orang-orang yang rugi.
fa tawallā 'an-hum wa qāla yā qaumi laqad ablagtukum risālāti rabbī wa naṣaḥtu lakum, fa kaifa āsā 'alā qauming kāfirīn
Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku telah menyampaikan amanat Tuhanku kepadamu dan aku telah menasihati kamu. Maka bagaimana aku akan bersedih hati terhadap orang-orang kafir?”
wa mā arsalnā fī qaryatim min nabiyyin illā akhażnā ahlahā bil-ba`sā`i waḍ-ḍarrā`i la'allahum yaḍḍarra'ụn
Dan Kami tidak mengutus seorang nabi pun kepada sesuatu negeri, lalu penduduknya mendustakan nabi itu, melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan agar mereka tunduk dengan merendahkan diri.
ṡumma baddalnā makānas-sayyi`atil-ḥasanata ḥattā 'afaw wa qālụ qad massa ābā`anaḍ-ḍarrā`u was-sarrā`u fa akhażnāhum bagtataw wa hum lā yasy'urụn
Kemudian Kami ganti penderitaan itu dengan kesenangan sehingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, lalu mereka berkata, “Sungguh, nenek moyang kami telah merasakan penderitaan dan kesenangan,” maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan tiba-tiba tanpa mereka sadari.
walau anna ahlal-qurā āmanụ wattaqau lafataḥnā 'alaihim barakātim minas-samā`i wal-arḍi wa lāking każżabụ fa akhażnāhum bimā kānụ yaksibụn
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.
a fa amina ahlul-qurā ay ya`tiyahum ba`sunā bayātaw wa hum nā`imụn
Maka apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang malam hari ketika mereka sedang tidur?
a wa amina ahlul-qurā ay ya`tiyahum ba`sunā ḍuḥaw wa hum yal'abụn
Atau apakah penduduk negeri itu merasa aman dari siksaan Kami yang datang pada pagi hari ketika mereka sedang bermain?
a fa aminụ makrallāh, fa lā ya`manu makrallāhi illal-qaumul-khāsirụn
Atau apakah mereka merasa aman dari siksaan Allah yang tidak terduga-duga? Tidak ada yang merasa aman dari siksaan Allah selain orang-orang yang rugi.
a wa lam yahdi lillażīna yariṡụnal-arḍa mim ba'di ahlihā al lau nasyā`u aṣabnāhum biżunụbihim, wa naṭba'u 'alā qulụbihim fa hum lā yasma'ụn
Atau apakah belum jelas bagi orang-orang yang mewarisi suatu negeri setelah lenyap penduduknya? Bahwa kalau Kami menghendaki pasti Kami siksa mereka karena dosa-dosanya; dan Kami mengunci hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar pelajaran.