fa farartu mingkum lammā khiftukum fa wahaba lī rabbī ḥukmaw wa ja'alanī minal-mursalīn
Lalu aku lari darimu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul.
Surah ke-26 · 227 ayat · Makkiyah
سورة الشعراء
The Poets
fa farartu mingkum lammā khiftukum fa wahaba lī rabbī ḥukmaw wa ja'alanī minal-mursalīn
Lalu aku lari darimu karena aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku menganugerahkan ilmu kepadaku serta Dia menjadikan aku salah seorang di antara rasul-rasul.
ۗ
wa tilka ni'matun tamunnuhā 'alayya an 'abbatta banī isrā`īl
Dan itulah kebaikan yang telah engkau berikan kepadaku, sementara itu engkau telah memperbudak Bani Israil.”
ۗ
qāla fir'aunu wa mā rabbul-'ālamīn
Fir‘aun bertanya, “Siapa Tuhan seluruh alam itu?”
qāla rabbus-samāwāti wal-arḍi wa mā bainahumā, ing kuntum mụqinīn
Dia Musa menjawab, “Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya itulah Tuhanmu, jika kamu mempercayai-Nya.”
qāla liman ḥaulahū alā tastami'ụn
Dia Fir‘aun berkata kepada orang-orang di sekelilingnya, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang dikatakannya?”
qāla rabbukum wa rabbu ābā`ikumul-awwalīn
Dia Musa berkata, “Dia Tuhanmu dan juga Tuhan nenek moyangmu terdahulu.”
qāla inna rasụlakumullażī ursila ilaikum lamajnụn
Dia Fir‘aun berkata, “Sungguh, Rasulmu yang diutus kepada kamu benar-benar orang gila.”
qāla rabbul-masyriqi wal-magribi wa mā bainahumā, ing kuntum ta'qilụn
Dia Musa berkata, “Dialah Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya; jika kamu mengerti.”
qāla la`inittakhażta ilāhan gairī la`aj'alannaka minal-masjụnīn
Dia Fir‘aun berkata, “Sungguh, jika engkau menyembah Tuhan selain aku, pasti aku masukkan engkau ke dalam penjara.”
qāla a walau ji`tuka bisyai`im mubīn
Dia Musa berkata, “Apakah engkau akan melakukan itu sekalipun aku tunjukkan kepadamu sesuatu bukti yang nyata?”
qāla fa`ti bihī ing kunta minaṣ-ṣādiqīn
Dia Fir‘aun berkata, “Tunjukkan sesuatu bukti yang nyata itu, jika engkau termasuk orang yang benar!”
ۚ
fa alqā 'aṣāhu fa iżā hiya ṡu'bānum mubīn
Maka dia Musa melemparkan tongkatnya, tiba-tiba tongkat itu menjadi ular besar yang sebenarnya.
wa naza'a yadahụ fa iżā hiya baiḍā`u lin-nāẓirīn
Dan dia mengeluarkan tangannya dari dalam bajunya, tiba-tiba tangan itu menjadi putih bercahaya bagi orang-orang yang melihatnya.
ۙ
qāla lil-mala`i ḥaulahū inna hāżā lasāḥirun 'alīm
Dia Fir‘aun berkata kepada para pemuka di sekelilingnya, “Sesungguhnya dia Musa ini pasti seorang pesihir yang pandai,
yurīdu ay yukhrijakum min arḍikum bisiḥrihī fa māżā ta`murụn
dia hendak mengusir kamu dari negerimu dengan sihirnya; karena itu apakah yang kamu sarankan?”
ۙ
qālū arjih wa akhāhu wab'aṡ fil-madā`ini ḥāsyirīn
Mereka menjawab, “Tahanlah untuk sementara dia dan saudaranya, dan utuslah ke seluruh negeri orang-orang yang akan mengumpulkan pesihir,
ya`tụka bikulli saḥḥārin 'alīm
niscaya mereka akan mendatangkan semua pesihir yang pandai kepadamu.”
ۙ
fa jumi'as-saḥaratu limīqāti yaumim ma'lụm
Lalu dikumpulkanlah para pesihir pada waktu yang ditetapkan pada hari yang telah ditentukan,
ۙ
wa qīla lin-nāsi hal antum mujtami'ụn
dan diumumkan kepada orang banyak, “Berkumpullah kamu semua,
la'allanā nattabi'us-saḥarata ing kānụ humul-gālibīn
agar kita mengikuti para pesihir itu, jika mereka yang menang.”