Surah ke-27 · 93 ayat · Makkiyah

An-Naml

سورة النمل

THE ANT

qāla nakkirụ lahā 'arsyahā nanẓur a tahtadī am takụnu minallażīna lā yahtadụn

Dia Sulaiman berkata, “Ubahlah untuknya singgasananya; kita akan melihat apakah dia Balqis mengenal; atau tidak mengenalnya lagi.”

fa lammā jā`at qīla a hākażā 'arsyuk, qālat ka`annahụ huw, wa ụtīnal-'ilma ming qablihā wa kunnā muslimīn

Maka ketika dia Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya, “Serupa inikah singgasanamu?” Dia Balqis menjawab, “Seakan-akan itulah dia.” Dan dia Balqis berkata, “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri kepada Allah.”

wa ṣaddahā mā kānat ta'budu min dụnillāh, innahā kānat ming qauming kāfirīn

Dan kebiasaannya menyembah selain Allah mencegahnya untuk melahirkan keislamannya, sesungguhnya dia Balqis dahulu termasuk orang-orang kafir.

ەۗ

qīla lahadkhuliṣ-ṣar-ḥ, fa lammā ra`at-hu ḥasibat-hu lujjataw wa kasyafat 'an sāqaihā, qāla innahụ ṣar-ḥum mumarradum ming qawārīr, qālat rabbi innī ẓalamtu nafsī wa aslamtu ma'a sulaimāna lillāhi rabbil-'ālamīn

Dikatakan kepadanya Balqis, “Masuklah ke dalam istana.” Maka ketika dia Balqis melihat lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya penutup kedua betisnya. Dia Sulaiman berkata, “Sesungguhnya ini hanyalah lantai istana yang dilapisi kaca.” Dia Balqis berkata, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah berbuat zalim terhadap diriku. Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

wa laqad arsalnā ilā ṡamụda akhāhum ṣāliḥan ani'budullāha fa iżā hum farīqāni yakhtaṣimụn

Dan sungguh, Kami telah mengutus kepada kaum Samud saudara mereka yaitu Saleh yang menyeru, “Sembahlah Allah!” Tetapi tiba-tiba mereka menjadi dua golongan yang bermusuhan.

qāla yā qaumi lima tasta'jilụna bis-sayyi`ati qablal-ḥasanah, lau lā tastagfirụnallāha la'allakum tur-ḥamụn

Dia Saleh berkata, “Wahai kaumku! Mengapa kamu meminta disegerakan keburukan sebelum kamu meminta kebaikan? Mengapa kamu tidak memohon ampunan kepada Allah, agar kamu mendapat rahmat?”

qāluṭ ṭayyarnā bika wa bimam ma'ak, qāla ṭā`irukum 'indallāhi bal antum qaumun tuftanụn

Mereka menjawab, “Kami mendapat nasib yang malang disebabkan oleh kamu dan orang-orang yang bersamamu.” Dia Saleh berkata, “Nasibmu ada pada Allah bukan kami yang menjadi sebab, tetapi kamu adalah kaum yang sedang diuji.”

wa kāna fil-madīnati tis'atu rahṭiy yufsidụna fil-arḍi wa lā yuṣliḥụn

Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan.

qālụ taqāsamụ billāhi lanubayyitannahụ wa ahlahụ ṡumma lanaqụlanna liwaliyyihī mā syahidnā mahlika ahlihī wa innā laṣādiqụn

Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan nama Allah, bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya bahwa kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh, kita orang yang benar.”

wa makarụ makraw wa makarnā makraw wa hum lā yasy'urụn

Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya, sedang mereka tidak menyadari.

fanẓur kaifa kāna 'āqibatu makrihim annā dammarnāhum wa qaumahum ajma'īn

Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya.

fa tilka buyụtuhum khāwiyatam bimā ẓalamụ, inna fī żālika la`āyatal liqaumiy ya'lamụn

Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui.

wa anjainallażīna āmanụ wa kānụ yattaqụn

Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.

wa lụṭan iż qāla liqaumihī a ta`tụnal-fāḥisyata wa antum tubṣirụn

Dan ingatlah kisah Lut, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah keji, padahal kamu melihatnya kekejian perbuatan maksiat itu?”

a innakum lata`tụnar-rijāla syahwatam min dụnin-nisā`, bal antum qaumun taj-halụn

Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk memenuhi syahwatmu, bukan mendatangi perempuan? Sungguh, kamu adalah kaum yang tidak mengetahui akibat perbuatanmu.

۞

fa mā kāna jawāba qaumihī illā ang qālū akhrijū āla lụṭim ming qaryatikum innahum unāsuy yataṭahharụn

Jawaban kaumnya tidak lain hanya dengan mengatakan, “Usirlah Lut dan keluarganya dari negerimu; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang menganggap dirinya suci.”

fa anjaināhu wa ahlahū illamra`atahụ qaddarnāhā minal-gābirīn

Maka Kami selamatkan dia dan keluarganya, kecuali istrinya. Kami telah menentukan dia termasuk orang-orang yang tertinggal dibinasakan.

wa amṭarnā 'alaihim maṭarā, fa sā`a maṭarul-munżarīn

Dan Kami hujani mereka dengan hujan batu, maka sangat buruklah hujan yang ditimpakan pada orang-orang yang diberi peringatan itu tetapi tidak mengindahkan.

۔

qulil-ḥamdu lillāhi wa salāmun 'alā 'ibādihillażīnaṣṭafā, āllāhu khairun ammā yusyrikụn

Katakanlah Muhammad, “Segala puji bagi Allah dan salam sejahtera atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia?”

ۗ

am man khalaqas-samāwāti wal-arḍa wa anzala lakum minas-samā`i mā`an fa ambatnā bihī ḥadā`iqa żāta bahjah, mā kāna lakum an tumbitụ syajarahā, a ilāhum ma'allāh, bal hum qaumuy ya'dilụn

Bukankah Dia Allah yang menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan air dari langit untukmu, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang berpemandangan indah? Kamu tidak akan mampu menumbuhkan pohon-pohonnya. Apakah di samping Allah ada tuhan yang lain? Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran.

← Surah sebelumnya Surah 26
Surah selanjutnya → Surah 28